Aku.. mungkin aku hanyalah seorang wanita yang polos dan tak tahu apa-apa tentang cinta. Hingga detik ini aku masih bingung membedakan antara cinta dan sayang. Kau tahu?? Usiaku sudah 21 tahun dan aku baru sekali berpacaran. Memang, sebelum pacaran pun aku telah beberapa kali menyukai dan mengagumi laki-laki. Akan tetapi, setelah ku merasakan sendiri apa itu pacaran aku merasa warna hidupku lebih lengkap lagi karena kehadirannya. Walau hanya seumur jangung, sungguh banyak kenangan dan hal yang telah dilalui bersama. Tapi mengapa, lagi lagi dan lagi aku harus merasakan pahitnya cinta. Ketika ku telah mencintainya dan tidak ingin kehilangannya, dia tega pergi meninggalkan aku, sendiri disini. Ketika ku sedang membutuhkan kasih sayang dan semangat dari orang yang ku anggap telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Begitu teganya dan begitu mudahnya ia memutuskan suatu hal yang mungkin masih ada solusi untuk memperbaikinya. Tidakkah ia berpikir dahulu sebelum berucap?? Tidakkah ia memikirkan perasaanku sebelum melakukannya?? Tidak adakah secuil perasaan cintanya yang dulu sering ia lontarkan?? Aku sungguh tak menyangka. Laki-laki yang baru aku temui lagi setelah 7 tahun tak berjumpa, hanya terbalaskan dalam waktu 4 bulan saja!! Mulai dari aku bertemu lagi dengannya hingga aku harus melupakan segalanya, hanya 4 bulan!
Lama tak berjumpa, ia datang kembali dengan dirimu yang masih sama seperti 2 bulan yang lalu. Ia seperti oasis ditengah gersangnya pasir gurun. Ia membawa angin sejuk dan harapan-harapan yang dulu pernah tertancap. Ia menyadarkanku kembali betapa rasa cinta tidak bisa hilang secepat kilat. Cinta dan rindu yang sempat luntur kini kembali menemukan warnanya, hingga ia berkata “aku butuh kamu”. Sesungguhnya aku bahagia, sangat bahagia. Namun entah mengapa, aku merasa semua itu hanya sementara lagi. Seperti tidak ada kesungguhan lagi seperti dulu ia melontarkan kata cinta dan sayang. Entahlah. Seperti tidak ada rasa kepercayaan lagi yang ku tancapkan pada dirinya, mungkin karena aku sudah terlanjur sakit hati. Berbagai pertanyaan telah tersemat dibenakku. Apakah ia serius dengan perkataannya itu? Apakah ia sadar atas apa yang telah ia katakan itu? Apakah ia tahu bahwa dulu ia telah menyakitiku? Apakah setelah aku kembali padanya ia akan menjaga dan mempertahankanku (lebih tepatnya hubungan ini)? Tidakkah ia merasakan sakit dan betapa terbelenggunya hati ini? Dan, haruskah aku kembali padanya? Ia bilang ia membutuhkanku untuk sebagai penyemangat dan pengingat baginya. Tidak! Aku bukan cheerleader yang selalu menjadi penyemangatnya, atau jam wekker yang setiap saat mengingatkan dirinya. Aku tidak mau menjadi 2 hal itu. Aku ingin dengan tulus menyemangati karena aku sayang padanya. Aku ingin tulus menjadi pengingatnya karena aku perduli atas apa yang ia lakukan. Dan aku ingin ia tulus membutuhkanku karena ia mencintaiku. Hanya itu yang ku inginkan. Dan entah akan terjadi atau tidak harapan-harapan kecilku itu. Dan semua itu, akan Tuhan yang menjawabnya…