Benar apa kata orang-orang. Pengalaman itu adalah guru terbaik . tanpa pengalaman kita tidak akan pernah bisa belajar untuk menjadi seseorang yang berpikiran dewasa. Dan tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya berjuang dengan hati dan pikiran kita.
Mungkin aku baru merasakannya sekarang ini. Aku memang terlahir menjadi anak yang manja dan inginnya hanya dimengerti. Aku cuek dan suka memikirkan kepentingan sendiri. Aku kurang peka dan terkadang menyebalkan.
Mungkin dibulan puasa ini Allah sengaja telah mengatur strategi untuk hidupku. Agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih matang lagi dalam menghadapi suatu masalah. Aku tidak tahu apa ini salahku, atau aku pernah melakukan kesalahan dimasa lalu. Proposal skripsi. jujur, aku tidak ada niat untuk menyombongkan diri atau mencoba melampaui prosedur yang ada. Aku hanya melihat dari sisi orang tuaku. Bapak. Beliau sangat menginginkan aku cepat lulus dari perguruan tinggi itu. Dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membiarkanku mandiri. Aku juga melihat dari sisi kesempatan. Dalam arti positif tentunya. Aku hanya ingin mencoba mengajukan proposal skripsiku. Aku hanya Ingin melakukan yang terbaik dengan haasil yang terbaik. Tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Tapi perasaan ini memang lebih dominan yang aku gunakan. Dari awal aku mengajukan proposal skripsi, perasaanku suddah tidak enak. Pikiranku tidak tenang. Seperti melayang dan entah apa yang aku pikirkan. Dan ternyata dugaanku benar. SKS ku kurang untuk syarat mengambil skripsi. jujur, aku kecewa. Dulu, saat aku minta tanda tangan Kajur, beliau menyarankan agar aku segera mengajukan proposal skripsi. awalnya aku ragu. Tapi, atas dorongan kakak dan sahabat-sahabatku, aku memberanikan diri untuk mencoba mengajukan tugas Metlit ku sebagai proposal skripsi yang aku ajukan. Sudah berhari-hari aku belum juga melihat proposalku dimeja bu ani, pengurus pengajuan psoposal skripsi. sampai suatu hari, aku bertanya pada beliau tentang proposalku yang tak kunjung mendapatkan surat pengajuan dosen pembimbing skripsi. dan beliaupun mengatakan bahwa SKS yang telah aku ambil belum mencapai 138 SKS. Dan aku tidak diizinkan mengambil mata kuliah skripsi. tapi beruntung bu Yusro, dosen pembimbing akademikku, telah menyetujui KRS ku. Jadi aku berpikir tidak ada masalah kalau aku mengajukan kembali proposalku itu. Akhirnya hari itu juga aku kembali mengajukan proposal skripsiku dengan menutupi sedikit rasa malu ku. Hingga senin, aku kekampus dan ternyata bagian akademik telah menyetujui proposalku. Akupun mendapatkan surat permohonan bimbingan skripsi. hari selasa aku berencana meminta tanda tangan Kajur ku atas dosen pembimbing yang ingin aku ajukan. Tapi apa daya. Mungkin Allah sudah mengaturnya dengan baik, kajur membaca judul skripsiku dan langsung menolak judulku itu. Sungguh aku sangat kecewa. Hasil kerja kerasku selama semester 6 kemarin ditolak mentah-mentah layaknya melempar sampah. Aku sungguh malu. Banyak mahasiswa semester bawah dan teman-teman seangkatanku yang berada diruangan itu. Seketika pikiraku mulai kacau. Dan mau tidak mau aku harus menebalkan wajahku dari rasa malu yang teramat sangat. Aku merasa kecil. Aku merasa bodoh. Tolol dan sangat tidak berguna. Aku harus mengganti judul. Aku merasa seperti melayang dan seketika dilempar kedalam jurang. Aku keluar dari ruangan tersebut dan merasa seperti orang yang gagal. Aku tidak tahu haru kemana, harus bagaimana, harus memulai darimana, harus meminta bantuan siapa, dan apa yang akan aku katakana kepada bapak. Seketika hatiku berucap, bapak tidak boleh tahu masalah ini. Ini urusanku. Bapak hanya boleh tahu aku kuliah, dan aku lulus sebagai sarjana ekonomi. Biar masalah perkuliahanku aku saja yang merasakan dan aku lalui. Saat ini aku benar-benar membutuhkan semangat dari orang-orang sekitarku. Dan jujur aku sungguh memerlukan bantuan teman-temanku untuk memulai semuanya dari awal. Dan sampai detik ini pun aku tidak bisa berpikir apa selanjutnya yang akan aku lakukan?? Bagaimana aku harus memulainya?? Darimana aku harus memulainya?? Bagaimana kalau kejadian tempo hari terulang kembali?? Ya Allah…aku tidak dapat berpikir apa-apa. Tapi aku hanya ingin berusaha bangkit kembali. Ini hanya tersandung, nay! Bukan terjatuh!
Bulan ramadhan ini memang bulan yang sangat luar biasa. Aku berpikir hanya ada satu kendala yang aku hadapi saat ini. Tapi, Allah sungguh luar biassa memberikan nikmatNya. Handphoneku rusak. LCDnya pecah, dan bodohnya itu akibat dari ulahku sendiri. Terinjak lututku. Aku merasa pribahasa “sudah jatuh, tertimpa tangga” memang pantas aku sandang saat ini. Aku tidak kuat lagi menahan semua sendirian. Aku hanya bisa menangis dan meratapi hal-hal yang terjadi padaku selama 2 hari berturut-turut itu. Sungguh pengalaman yang tidak akan bisa aku lupakan. Dan ketika aku membutuhkan bantuan orang-orang sekitarku, aku hanya mendapat cemoohan dan kata-kata yang hanya membuatku semakin menyalahkan diriku. Yang aku rasakan saat ini hanyalah sedih dan kecewa. Semoga ada hikmah dibalik semua ini, Rabb… amin.