Saat aku menulis kisah ini, mungkin aku harus mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenanganku yang telah berserakan. Yang telah berhamburan didalam memori otakku. Entah apa yang aku rasakan ketika kenangan-kenangan itu mulai berkumpul menjadi satu. Bukan seperti perasaan ketika seseorang menyatakan cinta padaku, atau bukan seperti seorang pegawai yang baru saja menerima gajinya, atau bahkan bukan seperti perasaan seorang anak kecil yang mainannya rusak karena temannya sendiri. Kenangan yang mungkin orang lain menganggapnnya hanya kenangan biasa. Tapi kenangan ini sungguh luar biasa yang pernah terjadi dalam hidupku. Kisah ini kisah yang tidak mungkin aku lupakan. Unforgettable moment…
Mungkin aku dilahirkan sebagai anak yang tumbuh dengan penuh kasih sayang dari orang tua dan keluarga. Mamaku, dia adalah satu-satunya orang yang paling aku sayangi. Diapun juga sangat menyayangiku. Sampai-sampai orang lain menganggapku ini anak mami. Anak manja… Tapi aku tidak peduli dengan julukan-julukan itu. Toh nikmatnya kasih sayang dan perhatian mama, aku sendiri yang merasakannya. Tapi dibalik kasih sayang dan perhatiannya itu, mama telah lama menahan sakit yang dideritanya. Diabetes… ya, mamaku telah lama mengidap penyakit itu. Tapi, dalam hati aku merasa bangga punya mama seperti mamaku. Dia punya semangat hidup yang tinggi, bakhan melebihi diriku ini. Apa yang mama lakukan pasti akan membawa manfaat. Terutama untuk anak-anaknya. Bahkan saat Sang Khaliq memanggilnya.
Kesedihanku memuncak saat aku mulai beranjak dewasa dan ingin mencari jati diri. Sebagai orang yang lahir dibulan februari, aku sudah punya rencana dan angan-angan ingin merayakan hari ulang tahunku yang pada saat itu genap berusia 17 tahun. Aku juga ingin mengundang teman-teman sekelas dan juga dia. J tapi, beberapa hari sebelum hari ulang tahunku rencana itu hilang bagaikan pasir pantai yang mengikis karena deburan ombak. Aku merasa sedih. Tapi muncul ide baru dalam otakku untuk memutuskan merayakan hari 17 tahunku dengan saudara terdekat dan sahabat-sahabatku. Jika dibayangkan, memang tidak seindah remaja-remaja lainnya yang merayakan sweet seventeen-nya bersama teman-teman, orang tua, kue tart, kado-kado, lilin-lilin yang cantik dan first cake untuk doi. Tetapi, aku sangat bahagia ketika pada hari kamis, 21 februari 2008, aku mendapatkan surprise dari teman-teman sekelasku (XII Soc 4) dan Mr. Cliff (guru English conversation-ku). Mereka menyanyikanku lagu “happy birthday to you” untukku. Sungguh, aku sangat bahagia. Mataku mulai panas karena terharu. Ulang tahun yang tidak mewah, tapi begitu berkesan. J pada lain kesempatan, dua sahabatku, Ade dan Gadis, mereka seperti melupakan hari ulang tahunku. Sepanjang hari kamis disekolah, mereka cuek padaku. Aku sempat sedih dan sedikit kecewa. Sahabat-sahabat yang aku harapkan dapat menghibur aku disaat hari ulang tahunku, hari itu seperti bersikap acuh tak acuh padaku. Tapi, ternyata mereka berdua kompakan untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke aku. Pada malam hari tentunya…
Aku berencana ingin merayakan ultahku pada tanggal 23 februari. Sahabat dan teman-teman dekatku telah aku undang. Tapi tiba-tiba, penyakit mamaku kambuh. Kedua kakakku mengantar mama ke rumah sakit. Setelah pulang dari rumah sakit, mama langsung duduk disofa ruang tamu. Aku langsung menghampiri mama. Matanya begitu sayu dan raut wajahnya sedikit murung. Aku bertanya padanya,”ma, tadi kata dokter, apa?”
Mamaku menjawab,”nay, mama harus dirawat dirumah sakit…” sungguh aku sangat terkejut mendengar kalimat itu. Aku hanya bisa terdiam. “mana besok inay mau ngerayain ulang tahun… mama bingung jadinya…” dan kata-kata itu telah membuat air mataku tak tertahankan lagi. Aku menangis. Kukumpulkan kekuatanku untuk tetap tegar dan kuat. Aku harus mengeluarkan sepatah dua kata dari bibirku. Nangisku bukan karena acara ulang tahunku, tapi karena mendengar pernyataan kalau mamaku harus di opname. “kenapa mama mesti bingung… mama ga usah mikirin acara ulang tahun inay. Inay nggak apa-apa kok kalu ga dirayain…” akhirnya aku dapat mengeluarkan apa yang ingin kuucapkan walau dengan nada yang terbata-bata. “tapi kan inay pengen banget dirayain. Trus, inay juga udah undang teman-teman kan?” mamaku menitikkan air matanya. Tangisanku semakin tersedu-sedu. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan dari mulut ini. Aku sungguh sedih.
Dan malam harinya, mamaku dirawat disebuah rumah sakit di bilangan Jakarta selatan. Saat itu aku dan bapak yang akan menginap dan menemani mama. Selama mama masih hidup, baru kali itu dia harus dirawat di rumah sakit. Sebenarnya sudah sering dokter menganjurkan untuk opname. Tapi mamaku tidak pernah mau. Dia lebih ingin meminum obat yang tiap 6 jam sekali harus dia telan. Serta insulin yang hharus ditusuk dibadannya saat dia hendak makan. Aku sungguh tidak tega setiap kali melihat mama menahan sakit yang luar biasa itu.
Sepanjang malam itu, aku tidak bisa tidur. Untuk memejamkan matapun aku tak bisa. Diriku selalu terjaga karena lamunan-lamunan yang tidak kuinginkan. Sepanjang malam itu pula, hatiku tak henti-hentinya menangis. bukan karena aku harus tidur dilantai atau karena acara ulang tahunku. Tapi hatiku sedih melihat mama terbaring lunglai ditempat tidur rumah sakit. Dan yang paling membuatku sedih, Mama tetap bersikukuh agar aku merayakan ulang tahunku…walau tanpa mama…
Dan ulang tahunku yang ke-17 itu, merupakan ulang tahunku yang terakhir bersama mama. 17 tahun… usia yang sangat bermakna dimana mau tidak mau aku harus berubah menjadi anak yang tegar dan kuat. Yang harus mencari jati diri dan cita-cita tanpa tuntunan dan kasih sayang seorang mama lagi. Karena pada bulan juli 2008 mama harus pergi…
inay_
